Jumat, 11 April 2014

Ayah




Sekitar 1,5 tahun yang lalu aku diterima di perguruan tinggi negeri di kotaku
Waktu itu aku memutuskan untuk kost karena jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar 45 menit jika tidak macet dan bisa 1,5 jam lebih jika sedang macet
Aku diterima di jurusan dan kampus yang menjadi pilihan pertamaku di seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Bukan tanpa alasan, aku memilih kampus yang di dalam kota karena aku cewek dan aku tidak ingin tinggal jauh dari keluarga.

Setiap seminggu sekali aku pulang, saat aku pulang selalu ada ayah, ibu, dan adik perempuanku. Lengkap. selalu begitu.

Ayah selalu terlihat sehat, meskipun ia tidak bisa berjalan dengan normal karena stroke ringan.

Ayah selalu saja cerewet dalam beberapa hal, ia selalu memarahi kami jika kami menghidupkan lampu jika tidak dipakai, jangan nonton TV dekat-dekat, jangan duduk di lantai tanpa karpet,jangan boros, kalau ketawa jangan urakan.

Bagiku, waktu itu terasa sangat menyebalkan. Iya, kata ayah, aku ini keras kepala, susah diberi tau.
Sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan ayah, usia ayah dan ibu terpaut jauh.
Ayah dengan segala pemikirannya yang sering tidak ku mengerti, agak kaku, dan sedikit menjaga jarak dengan putri-putrinya. Waktu SMA, aku sering berdebat dengan ayah.
Ayah bukanlah orang yang mudah mengatakan bahwa ia menyayangi kami, bukanlah ayah yang suka menelepon anaknya untuk menanyakan kabar, dan tentu ia bukan ayah yang suka memanjakan putrinya. Bahkan ayah tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun.

Apa ayahmu tidak menyayangimu? Apa kamu sayang dengan ayah? Tolong, itu pertanyaan yang bodoh.

Waktu itu setiap minggu sore, aku harus kembali ke kost, aku pamit pada orang tuaku. Aku cium tangan ayah, dan seperti biasa kita tak banyak bicara. Tapi aku selalu berdoa kalau aku pulang kerumah nanti, ayah, ibu dan adikku menungguku di rumah.
Waktu itu aku sudah kuliah 2 semester, ada kabar tentang penerimaan mahasiswa baru di sebuah PTK yang sudah menjadi cita-citaku sejak SMA, dan tentu cita-cita orang tuaku.
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, karena tahun lalu sudah tidak buka pendaftaran. Ibu tentu sangat mendukungku, ayah juga.
Aku bolak balik mengurusi berkas pendaftaran, tes tertulis, tes wawancara dan fisik dengan teman sekampusku.  Sejak lulus SMA, aku lebih sering bersama teman-temanku untuk menjalani berbagai tes, bahkan ketika aku harus mencari kost. Ayah tentu tidak bisa mengantarku dan ibu tidak punya banyak waktu.
Beruntunglah mereka yang ditemani ayah dan ibunya untuk tes kesana kemari. Tapi itu bukan masalah.

Hingga suatu ketika Allah menjawab doa kami, aku diterima di perguruan tinggi kedinasan yang aku impikan selama ini. Dan kurang dari 2 minggu sejak pengumuman itu, aku harus berangkat ke Jakarta.
Time flies so fast. Aku harus meninggalkan kota kelahiran, keluarga dan teman-temanku.
Aku berangkat ke Jakarta diantar Ibu, aku pamit pada ayah dan seperti biasa ia tak banyak bicara. Sekarang , aku tidak lagi pulang setiap minggu, tapi beberapa bulan sekali, jika ada kesempatan untuk pulang. Rinduku pada mereka menjadi terpaut jarak :’)

Akhir tahun lalu, libur natal adalah kesempatan untuk pulang ke rumah. Aku benar-benar kangen rumah.
Aku sampai di rumah, ada ayah, ibu, dan adikku. Lengkap. Ayah masih tampak sehat dan lebih muda dari umurnya. Bahkan ayah bisa dikategorikan cakep daripada bapak-bapak lainnya wkwk :p
Hanya saja terkadang ia seperti memikirkan sesuatu, tapi ia tak pernah bercerita.

Seminggu berlalu, aku harus kembali ke Jakarta. Liburan telah usai padahal aku masih ingin di rumah. Aku pamit pada ayah, aku ingat betul, waktu itu ia sedang tidur siang. Aku membangunkannya dan mencium tangannya. Tunggu aku pulang lagi ayah.
Sejauh-jauhnya kau pergi, sebaik-baiknya tempat yang kau singgahi, sebenarnya yang ingin kau tuju adalah rumah :’)

Seminggu kemudian, kata adikku ayah sakit di rumah sakit. Aku ingin pulang. Tapi di kampusku untuk ijin tidak mudah. Kata ibu tidak usah, ayah baik-baik saja. Tetap saja, aku tidak tenang.
Ayah hanya dirawat 3 hari dirumah sakit, katanya kondisinya emang agak drop. Aku merasa lega, jika ayah baik-baik saja.

Tapi keadaan memang tidak selalu sama dengan yang kita harapkan, ayah masuk rumah sakit lagi.  Waktu itu aku benar-benar ingin pulang, sebenarnya ayah sakit apa? Aku tanya adikku, tapi tidak mengatakan apa-apa, aku tanya ibu katanya tidak apa-apa, doakan saja. Aku tau pasti ibu bohong, aku benar-benar tidak tenang. Aku cuma bisa berdoa :’’
Waktu itu aku jadi sering menghubungi ibu, ia cuma bilang ayah baik baik saja. kapan ayah pulang? Sebentar lagi. Kata ibu.

Hingga hari yang tidak pernah aku inginkan itu tiba, hari itu aku kuliah jam 2. Sekitar jam setengah 11 aku sholat dhuha, entah mengapa aku menangis dalam sajadahku ketika ingat ayah. Aku ingin ayah sehat dan pulang ke rumah.
Sebenarnya aku ingin tidur sebentar, supaya nanti ketika kuliah aku tidak ngantuk. Tapi aku tidak bisa, rasanya tidak tenang.
Setelah dzuhur, ibu menelponku. Tanpa basa basi ibu mengatakan, lagi apa? Kamu ijin kuliah dulu, pulang sekarang. Ayah sakit. Ibu mengatakan dengan nada biasa, tanpa menangis, tapi aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu sebenarnya.
Seketika aku menangis. Otakku sudah mengarah pada hal terburuk yang  mungkin terjadi, bukankah selama ini ibu melarangku pulang meskipun ayah sakit. Kenapa tiba-tiba ia menyuruhku pulang.
Aku kemasi barangku. aku sudah tidak bisa berpikir lagi mau pulang naik apa, karena pulang se mendadak ini. Sampai akhirnya tetanggaku menghubungiku, aku diantar oleh teman SD sekaligus tetanggaku yang sedang berada di Jakarta untuk mencari tiket pesawat.

Ibuku terus menghubungiku, katanya pesan tiket pesawat paling cepat. Tapi karena waktunya mepet, aku mendapatkan pesawat dengan jadwal penerbangan pukul 19.30 dan itu tinggal satu-satunya.
Pukul 15.30 aku segera naik taksi ke bandara, di sepanjang perjalanan menuju bandara aku menangis, dan ketika supir taksi mengajakku bicara aku usap air mataku, begitu terus sampai aku tiba di bandara.
Sampai di bandara, aku agak kikuk karena untuk pertama kalinya aku naik pesawat. Aku mengikuti saja apa yang dilakukan orang didepanku, dan aku juga bertanya kepada petugas bandara. karena berada di antara banyak orang aku berusaha untuk tidak menangis. It’s uneasy :’)
Pukul 17.30 aku membayar boarding pass, lalu aku duduk menunggu jam keberangkatan. Waktu itu terasa sangat lama, aku duduk sendiri dan aku menangis, dan jika ada orang yang lewat didepanku aku mengusap wajahku, begitu terus sampai aku naik ke pesawat.
Pukul 20.15 aku sampai, aku dijemput pak de yang tinggal tidak jauh dari bandara. Jarak dari bandara ke rumah cukup jauh, sekitar 1 jam lebih.

Aku tiba didepan rumah, rumahku ada banyak orang. Om dan budeku merangkulku kerumah, ia bilang, “sabar ya,nduk”
Air mataku mengalir deras, nenekku memelukku, rasanya ini tidak mungkin. Aku pulang dan kali ini tidak lengkap. Tidak ada ayah. Kenapa ayah tidak menungguku pulang ke rumah?

Seperti kata ayah, aku ini seperti anak kecil. Hari itu benar-benar seperti hari kiamat bagi gadis kecil ayah. Hari terakhir dimana aku pamit ke Jakarta itu adalah terakhir kali aku melihat ayah. Rasa kehilangan yang tidak bisa kukatakan lagi, benar-benar seperti ada yang hilang dari hidupku.
Mengapa ayah tidak bisa menungguku lebih lama? Setidaknya sampai ayah bisa melihatku sukses. aku belum sempat membuat ayah bahagia. Aku belum sempat membuat ayah bangga. Aku belum sempat mengucapkanmaaf. maafkan aku yang sering mengabaikan nasehat ayah, membantah nasehat ayah, dan tidak menuruti ayah. Maafkan aku yang tidak pernah serius dengan kuliahku, meskipun ayah tidak pernah menuntut macam-macam.


Sekarang, rinduku pada ayah bukan lagi sekedar jarak. Aku tidak pernah tau kapan bisa bertemu dengan ayah lagi. Mungkin selama hidupmu aku tidak pernah memelukmu, tapi sekarang aku akan memelukmu dari jauh dengan doaku.


Aku tidak tau lagi bagaimana kepergian ayah benar-benar membuat kami sedih. Sekarang semuanya terasa berbeda. Ketika aku pulang kerumah hanya ada ibu dan adik dan benar-benar terasa sepi. Tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk tidak nonton TV dekat-dekat, mungkin dulu itu menyebalkan tapi sekarang aku sangat merindukannya. Sekarang remot TV sangat mudah kutemukan, ayah tidak lagi menyembunyikan remote di bawah kursinya. 


Ayah mengajariku tentang kesederhanaan, ketika  ia tidak pernah mau membeli baju baru. Semenjak ayah pensiun ia kekeh  tidak ada yang bisa menyentuh gaji pensiunnya  karena ia akan menabungkan semuanya. Sekalipun anak perempuannya  merengek meminta gadget baru, ayah akan menolak dengan tegas. Ayah ingin kami, putri-putinya sekolah setinggi-tingginya.
Terimakasih ayah, sudah menjadi ayah terbaik dalam hidupku. Terimakasih untuk pelajaran hidup yang telah kau berikan. Betapa ayah tidak pernah memanjakanku, tapi ayah mengajariku untuk berdiri kuat di atas kakiku sendiri. Aku tidak akan seperti anak kecil lagi.
Terima kasih ayah, untuk kurang lebih 19 tahun menemani dalam hidupku.

Life must go on. I never know how strong I am until being strong is the only choice I have :)

She is now and will always be her daddy's girl



 




6 komentar:

  1. ayukkkkk......cerita kamu bagus bikin terharu......aku jadi nagis ni yuk....hohoho :"( :"(

    BalasHapus
  2. be strong yuuuuuuuuk :'(
    maaf ngga ada di sampingmu di hari-hari terberatmuuu
    keep fighting !!!

    BalasHapus
  3. Semangat terus ya yuk.. untuk mewujudkan resolusimu.. Ayu pasti bisa :)
    Seperti kata bang Tere yuk.. dengan filosofi daun yang jatuh tak pernah membenci angin.. Menerima dengan ikhlas, dan menyerahkannya pada yang lebih berkuasa :) *ah, malah jd OOT, maaf

    BalasHapus
  4. Semangat Kaka Ayu, menyadarkan banyak gal yg perlu saya syukuri. Semoga beliau dilapangkan kubur, dilimpahkan pahala dan keluarga yg di tinggalkan senang tiasa mendoakan beliau dan jadi amal jariyah beliau. Aamiin

    BalasHapus