Sekitar 1,5
tahun yang lalu aku diterima di perguruan tinggi negeri di kotaku
Waktu itu
aku memutuskan untuk kost karena jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar
45 menit jika tidak macet dan bisa 1,5 jam lebih jika sedang macet
Aku diterima
di jurusan dan kampus yang menjadi pilihan pertamaku di seleksi masuk perguruan
tinggi negeri.
Bukan tanpa
alasan, aku memilih kampus yang di dalam kota karena aku cewek dan aku tidak
ingin tinggal jauh dari keluarga.
Setiap
seminggu sekali aku pulang, saat aku pulang selalu ada ayah, ibu, dan adik
perempuanku. Lengkap. selalu begitu.
Ayah selalu
terlihat sehat, meskipun ia tidak bisa berjalan dengan normal karena stroke
ringan.
Ayah selalu
saja cerewet dalam beberapa hal, ia selalu memarahi kami jika kami menghidupkan
lampu jika tidak dipakai, jangan nonton TV dekat-dekat, jangan duduk di lantai
tanpa karpet,jangan boros, kalau ketawa jangan urakan.
Bagiku,
waktu itu terasa sangat menyebalkan. Iya, kata ayah, aku ini keras kepala,
susah diberi tau.
Sebenarnya
aku tidak begitu dekat dengan ayah, usia ayah dan ibu terpaut jauh.
Ayah dengan
segala pemikirannya yang sering tidak ku mengerti, agak kaku, dan sedikit
menjaga jarak dengan putri-putrinya. Waktu SMA, aku sering berdebat dengan
ayah.
Ayah
bukanlah orang yang mudah mengatakan bahwa ia menyayangi kami, bukanlah ayah
yang suka menelepon anaknya untuk menanyakan kabar, dan tentu ia bukan ayah
yang suka memanjakan putrinya. Bahkan ayah tidak pernah mengucapkan selamat
ulang tahun.
Apa ayahmu
tidak menyayangimu? Apa kamu sayang dengan ayah? Tolong, itu pertanyaan yang
bodoh.
Waktu itu
setiap minggu sore, aku harus kembali ke kost, aku pamit pada orang tuaku. Aku
cium tangan ayah, dan seperti biasa kita tak banyak bicara. Tapi aku selalu
berdoa kalau aku pulang kerumah nanti, ayah, ibu dan adikku menungguku di
rumah.
Waktu itu
aku sudah kuliah 2 semester, ada kabar tentang penerimaan mahasiswa baru di
sebuah PTK yang sudah menjadi cita-citaku sejak SMA, dan tentu cita-cita orang
tuaku.
Aku tidak
mau menyia-nyiakan kesempatan itu, karena tahun lalu sudah tidak buka
pendaftaran. Ibu tentu sangat mendukungku, ayah juga.
Aku bolak
balik mengurusi berkas pendaftaran, tes tertulis, tes wawancara dan fisik
dengan teman sekampusku. Sejak lulus
SMA, aku lebih sering bersama teman-temanku untuk menjalani berbagai tes,
bahkan ketika aku harus mencari kost. Ayah tentu tidak bisa mengantarku dan ibu
tidak punya banyak waktu.
Beruntunglah
mereka yang ditemani ayah dan ibunya untuk tes kesana kemari. Tapi itu bukan
masalah.
Hingga suatu
ketika Allah menjawab doa kami, aku diterima di perguruan tinggi kedinasan yang
aku impikan selama ini. Dan kurang dari 2 minggu sejak pengumuman itu, aku
harus berangkat ke Jakarta.
Time flies
so fast. Aku harus meninggalkan kota kelahiran, keluarga dan teman-temanku.
Aku
berangkat ke Jakarta diantar Ibu, aku pamit pada ayah dan seperti biasa ia tak
banyak bicara. Sekarang , aku tidak lagi pulang setiap minggu, tapi beberapa
bulan sekali, jika ada kesempatan untuk pulang. Rinduku pada mereka menjadi
terpaut jarak :’)
Akhir tahun
lalu, libur natal adalah kesempatan untuk pulang ke rumah. Aku benar-benar
kangen rumah.
Aku sampai
di rumah, ada ayah, ibu, dan adikku. Lengkap. Ayah masih tampak sehat dan lebih
muda dari umurnya. Bahkan ayah bisa dikategorikan cakep daripada bapak-bapak
lainnya wkwk :p
Hanya saja
terkadang ia seperti memikirkan sesuatu, tapi ia tak pernah bercerita.
Seminggu
berlalu, aku harus kembali ke Jakarta. Liburan telah usai padahal aku masih
ingin di rumah. Aku pamit pada ayah, aku ingat betul, waktu itu ia sedang tidur
siang. Aku membangunkannya dan mencium tangannya. Tunggu aku pulang lagi ayah.
Sejauh-jauhnya kau pergi,
sebaik-baiknya tempat yang kau singgahi, sebenarnya yang ingin kau tuju adalah
rumah :’)
Seminggu
kemudian, kata adikku ayah sakit di rumah sakit. Aku ingin pulang. Tapi di
kampusku untuk ijin tidak mudah. Kata ibu tidak usah, ayah baik-baik saja.
Tetap saja, aku tidak tenang.
Ayah hanya
dirawat 3 hari dirumah sakit, katanya kondisinya emang agak drop. Aku merasa
lega, jika ayah baik-baik saja.
Tapi keadaan
memang tidak selalu sama dengan yang kita harapkan, ayah masuk rumah sakit
lagi. Waktu itu aku benar-benar ingin
pulang, sebenarnya ayah sakit apa? Aku tanya adikku, tapi tidak mengatakan apa-apa,
aku tanya ibu katanya tidak apa-apa, doakan saja. Aku tau pasti ibu bohong, aku
benar-benar tidak tenang. Aku cuma bisa berdoa :’’
Waktu itu
aku jadi sering menghubungi ibu, ia cuma bilang ayah baik baik saja. kapan ayah
pulang? Sebentar lagi. Kata ibu.
Hingga hari
yang tidak pernah aku inginkan itu tiba, hari itu aku kuliah jam 2. Sekitar jam
setengah 11 aku sholat dhuha, entah mengapa aku menangis dalam sajadahku ketika
ingat ayah. Aku ingin ayah sehat dan pulang ke rumah.
Sebenarnya
aku ingin tidur sebentar, supaya nanti ketika kuliah aku tidak ngantuk. Tapi
aku tidak bisa, rasanya tidak tenang.
Setelah
dzuhur, ibu menelponku. Tanpa basa basi ibu mengatakan, lagi apa? Kamu ijin
kuliah dulu, pulang sekarang. Ayah sakit. Ibu mengatakan dengan nada biasa,
tanpa menangis, tapi aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu sebenarnya.
Seketika aku
menangis. Otakku sudah mengarah pada hal terburuk yang mungkin terjadi, bukankah selama ini ibu
melarangku pulang meskipun ayah sakit. Kenapa tiba-tiba ia menyuruhku pulang.
Aku kemasi
barangku. aku sudah tidak bisa berpikir lagi mau pulang naik apa, karena pulang
se mendadak ini. Sampai akhirnya tetanggaku menghubungiku, aku diantar oleh
teman SD sekaligus tetanggaku yang sedang berada di Jakarta untuk mencari tiket
pesawat.
Ibuku terus
menghubungiku, katanya pesan tiket pesawat paling cepat. Tapi karena waktunya
mepet, aku mendapatkan pesawat dengan jadwal penerbangan pukul 19.30 dan itu
tinggal satu-satunya.
Pukul 15.30
aku segera naik taksi ke bandara, di sepanjang perjalanan menuju bandara aku
menangis, dan ketika supir taksi mengajakku bicara aku usap air mataku, begitu
terus sampai aku tiba di bandara.
Sampai di
bandara, aku agak kikuk karena untuk pertama kalinya aku naik pesawat. Aku
mengikuti saja apa yang dilakukan orang didepanku, dan aku juga bertanya kepada
petugas bandara. karena berada di antara banyak orang aku berusaha untuk tidak
menangis. It’s uneasy :’)
Pukul 17.30
aku membayar boarding pass, lalu aku duduk menunggu jam keberangkatan. Waktu itu
terasa sangat lama, aku duduk sendiri dan aku menangis, dan jika ada orang yang
lewat didepanku aku mengusap wajahku, begitu terus sampai aku naik ke pesawat.
Pukul 20.15
aku sampai, aku dijemput pak de yang tinggal tidak jauh dari bandara. Jarak
dari bandara ke rumah cukup jauh, sekitar 1 jam lebih.
Aku tiba
didepan rumah, rumahku ada banyak orang. Om dan budeku merangkulku kerumah, ia
bilang, “sabar ya,nduk”
Air mataku
mengalir deras, nenekku memelukku, rasanya ini tidak mungkin. Aku pulang dan
kali ini tidak lengkap. Tidak ada ayah. Kenapa ayah tidak menungguku pulang ke
rumah?
Seperti kata
ayah, aku ini seperti anak kecil. Hari itu benar-benar seperti hari kiamat bagi
gadis kecil ayah. Hari terakhir dimana aku pamit ke Jakarta itu adalah terakhir
kali aku melihat ayah. Rasa kehilangan yang tidak bisa kukatakan lagi,
benar-benar seperti ada yang hilang dari hidupku.
Mengapa ayah
tidak bisa menungguku lebih lama? Setidaknya sampai ayah bisa melihatku sukses.
aku belum sempat membuat ayah bahagia. Aku belum sempat membuat ayah bangga.
Aku belum sempat mengucapkanmaaf. maafkan aku yang sering mengabaikan nasehat
ayah, membantah nasehat ayah, dan tidak menuruti ayah. Maafkan aku yang tidak
pernah serius dengan kuliahku, meskipun ayah tidak pernah menuntut macam-macam.
Sekarang,
rinduku pada ayah bukan lagi sekedar jarak. Aku tidak pernah tau kapan bisa
bertemu dengan ayah lagi. Mungkin selama hidupmu aku tidak pernah memelukmu,
tapi sekarang aku akan memelukmu dari jauh dengan doaku.
Aku tidak
tau lagi bagaimana kepergian ayah benar-benar membuat kami sedih. Sekarang
semuanya terasa berbeda. Ketika aku pulang kerumah hanya ada ibu dan adik dan
benar-benar terasa sepi. Tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk tidak nonton
TV dekat-dekat, mungkin dulu itu menyebalkan tapi sekarang aku sangat
merindukannya. Sekarang remot TV sangat mudah kutemukan, ayah tidak lagi
menyembunyikan remote di bawah kursinya.
Ayah
mengajariku tentang kesederhanaan, ketika
ia tidak pernah mau membeli baju baru. Semenjak ayah pensiun ia
kekeh tidak ada yang bisa menyentuh gaji
pensiunnya karena ia akan menabungkan
semuanya. Sekalipun anak perempuannya
merengek meminta gadget baru, ayah akan menolak dengan tegas. Ayah ingin
kami, putri-putinya sekolah setinggi-tingginya.
Terimakasih
ayah, sudah menjadi ayah terbaik dalam hidupku. Terimakasih untuk pelajaran
hidup yang telah kau berikan. Betapa ayah tidak pernah memanjakanku, tapi ayah
mengajariku untuk berdiri kuat di atas kakiku sendiri. Aku tidak akan seperti
anak kecil lagi.
Terima kasih
ayah, untuk kurang lebih 19 tahun menemani dalam hidupku.
Life must go
on. I never know how strong I am until being strong is the only choice I have :)
 |
| She is now and will always be her daddy's girl |